ILMU.NET

Kumpulan Ilmu Bermanfaat, SEMOGA BERKAH…

Ibu Rumah Tangga

Nov
23

ibu rumah tanggaDi awal pernikahan, saya dan suami membuat kesepakatan dengan ikhlas, bahwa saya tinggal di rumah mengurus rumah tangga dengan fokus pada pendidikan anak. Sementara, suami menjadi kepala rumah tangga dengan fokus pekerjaan di luar rumah. Ketika itu, saya menganggap pekerjaan rumah tangga hanyalah pekerjaan sederhana, karena bukankah menjadi ibu rumah tangga adalah fitrah wanita? Tetapi, setelah menjalani kehidupan rumah tangga, saya baru sadar, ternyata pekerjaan rumah tangga itu sangat rumit.

Seorang ibu rumah tangga tidak memiliki jam kerja tertentu, artinya, tugasnya dimulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Bahkan, menjadi ibu rumah tangga, berarti banyak belajar, seperti belajar manajemen, baik manajemen rumah tangga, manajemen keuangan, sampai manajemen qalbu. Lalu belajar pembukuan, dimana saya selalu njelimet mengatur keuangan, karena penghasilan suami memang pas-pasan. Dan kemuadian belajar psikologi, baik psikologi anak maupun psikologi umum.

Bahkan, untuk bisa mensyukuri nafkah dari suami, saya harus punya bermacam-macam keterampilan, seperti memasak yang sebelumnya jarang saya lakukan. Keterampilan menjahit pun harus saya kuasai. Sebab, untuk pakaian anak yang jumlahnya bertambah setiap dua tahun, terlalu mahal bagi saya apabila harus membeli pakaian jadi.

Alhamdulillah, dengan bekal kemauan dan sedkit nekad, semua keterampilan itu dapat saya kuasai. Termasuk keterampilan pangkas rambut! Mulai rambu abinya, sampai anak keenam saya tangani sendiri. Bayangkan jika upah pangkas rambut 1 orang Rp. 4.000,-, maka saya bisa berhemat 28 ribu rupiah tiap bulan. Begitu pun pakaian anak, saya bisa hemat 50% dari harga pakaian jadi di pasaran dikalikan kebutuhan 8 orang. Bukankah penghematan cukup besar? Belum lagi, makanan jajanan yang saya olah sendiri. Saya yakin, jika beli makanan jadi harganya pasti berlipat. Namun, setelah sekian banyak yang saya hemat, nyatanya keuangan kami tetap seret. Rupanya penyebabnya adalah minimnya penghasilan suami. Maka jadilah saya, tiga tahun belakangan ini, seorang motivator sekaligus konsultan bagi suami saya, sehingga alhamdulillah kini suami saya telah mempunyai pekerjaan yang layak dengan status yang baik di masyarakat.

Lalu, seiring dengan kemandirian anak-anak, saya pun memilih salah satu keahlian saya untuk disumbangkan pada masyarakat. Saya ingin lebih bernilai, tidak hanya bagi keluarga, tapi juga bagi masyarakat. Alhamdulillah, suami saya mendukung niat itu.

Kadang-kadang, timbul pikiran jahil saya, berapa gaji saya seharusnya atas semua tugas saya ini? Saya ratu rumah tangga sekaligus pembantu. Saya manajer merangkap baby sitter. Saya juga akuntan dan konsultan suami saya dalam usahanya. Pendidik sekaligus tukang ketik, penggagas sekaligus tukang pangkas. Saya juga seorang pengobat sekaligus perawat. Keluarga kami jarang ke dokter atau rumah sakit, berbekal kepandaian pijat refleksi dan juice therapy yang saya pelajari dari buku. Saya juga aktor bagi anak-anak takkala menggambarkan berbagai macam watak yang ada dalam cerita yang sedang kami baca. Itulah karir saya selama 15 tahun menjadi ibu rumah tangga.

Aku lantas teringat kata-kata Mahbub Junaidi -Seorang ekonom Pakistan-, “Jika ibu-ibu rumah tangga meminta diberikan gaji, maka nilainya adalah satu milyar dollar per tahun. Sebuah nilai yang besar untuk budget sebuah negara. Syukurlah ibu-ibu rumah tangga memberikan tenaganya dengan cinta, maka tak perlu memusingkan Kepala Negara bukan?”

Saya setuju dengan pendapatnya. Saya sanggup bersusah payah menjalani karir ibu rumah tangga, walau selalu diremehkan dan jarang mendapat pengakuan yang layak dari masyarakat, hanya karena saya sangat mencintai suami dan anak-anak yang diamanahkan Allah pada saya. Dan yang lebih penting dari semua itu, saya mendapat cinta dari Yang Maha Pencipta. Allahu Rabbul ‘Alamin.

Salam hormat buat ibu-ibu rumah tangga sejati. Karirmu sangat penting, dalam mempersiapkan generasi Rabbani. Dan gajimu, insya Allah kehidupan hakiki syurgawi.Amiin.

Sumber: As-sajada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.