ILMU.NET

Kumpulan Ilmu Bermanfaat, SEMOGA BERKAH…

Penyesalan

Nov
12

penyesalanOleh Mohammad Salahuddin

“Lima Menit Lagi!” terdengar suara lantang dari dekat pintu kelas.

Muka Amir-pun menjadi merah, dan keringat dinginpun mulai keluar.

Sebentar-sebentarpun ia gigit pencil yang ada di gengamannya dengan sangat keras. Kertas ujiannya masih terlihat kosong. Detak jantungnyapun semakin keras, dan makin terasa ketakutan dalam dirinya bercampur dengan penyesalan yang amat sangat bahwa ia tidak belajar sungguh-sungguh untuk ujian yang sedang dilakukannya. Terbayang olehnya bahwa ia akan dihukum orang tuanya. Terkadang iapun menggigit jarinya, sampai tidak terasa lagi bahwa kukunya sudah mulai membiru karena gigitannya yang sangat keras.

Demikianlah sekilas gambaran dari seseorang yang sedang berada dalam ketakutan dan kecemasan sampai-sampai ia sendiri tidak merasakan lagi bahwa ia menggigit jarinya dengan keras.

Pernahkah kita merasa ketakutan dan penyesalan terhadap apa yang kita telah lakukan? Pernahkah kita membayangkan bahwa suatu saat akan banyak sekali orang yang menyesal dengan amat sangat dalam, sampai-sampai ia bukan hanya menggigit jari mereka tetapi sampai memasukkan kedua tangan mereka ke dalam mulut dan menggigitnya. Allah (S. W. T.) dalam Al-Qur’an berfirman:

“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. ‘ ” (Q. S. Al-Furqan 25:27)

Bukan hanya memasukkan kedua tangan kita ke dalam mulut, saking ketakutannya detak jantung merekapun akan berdegup begitu kerasnya hingga menyumbat (menyesak) kerongkongan mereka. Allah (S. W. T.) berfirman:

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika (detak) jantung (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya. ” (Q. S. Ghafir 40:18)

Begitu banyaknya orang yang akan menyesal pada hari Kiamat nanti, sehingga Allah (S. W. T.) menyebut hari Kiamat ini sebagai “Hari Penyesalan.” Allah (S. W. T.) berfirman:

“Dan berilah mereka peringatan tentang Hari Penyesalan” (Q. S. Maryam 19:39)

Kalau Amir (dalam kisah di atas) mencapai klimaks ketakutannya selama lima menit terakhir dari ujiannya. Ditambah dengan klimaks penyesalannya mungkin hanya beberapa hari atau beberapa minggu setelah ujian tersebut. Tetapi ketakutan dan penyesalan yang akan terjadi dalam hari Kiamat adalah amat sangat jauh dari hanya satu minggu, satu bulan maupun satu tahun. Rasulullah (S. A. W.) pernah berkata bahwa hari Kiamat (hari di mana kita dibangkitkan kembali sampai selesai perhitungan amal kita) adalah satu hari yang panjangnya lima puluh ribu tahun. (Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ya, lima puluh ribu tahun kita nanti harus berdiri, menunggu, diselesaikan urusan di antara kita, ditimbang amalan kita, sebelum akhirnya kita dimasukan ke surga atau ke neraka. Selama lima puluh ribu tahun tersebut akan banyak sekali orang yang ketakutan dan menyesal terhadap apa yang dilakukannya. Rasullah (S. A. W.) pernah bersabda bahwa ketika kita wafat (di dalam kubur), kita akan diperlihatkan setiap pagi dan setiap petang tempat yang akan kita tempati (di akhirat nanti). Apabila kita adalah Ahli Surga (orang yang akan tinggal di surga), maka kita akan diperlihatkan tempat kita dalam surga. Apabila kita adalah Ahli Neraka (orang yang akan tinggal di neraka), maka akan diperlihatkan kepada kita tempat kita di neraka. (H. R. Bukhari)

Bisa dibayangkan bagaimana ketakutannya para calon penghuni neraka pada hari Hari Kebangkitan nanti. Mereka telah diperlihatkan tempat mereka di neraka. Mereka telah diperlihatkan bagaimana mereka nantinya dibakar dengan api yang panasnya 70 kali lipat api di dunia. Mereka telah diperlihatkan bagaimana mereka nantinya hanya bisa minum air mendidih dan nanah, yang apabila diminum hanya akan menghancur-leburkan perut mereka dan tidak menghilangkan rasa haus mereka. Mereka telah diperlihatkan bahwa makanan mereka hanyalah zaqum yang berduri, yang apabila dimakan hanya akan merobek perut mereka dan tidak akan pernah membuat kenyang.

Begitu menakutkannya hari kebangkitan ini, sampai anak kecil yang tidak memiliki dosapun akan beruban dan rambutnya menjadi putih. Allah (S. W. T.) berfirman:

“Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. ” (Q. S. Al-Muzzammil 73:17)

Lalu bagaimana dengan diri kita yang pastinya telah berbuat jauh lebih banyak dosa dibandingkan dengan anak kecil? Sedangkan anak-anak kecilpun akan beruban karena dasyatnya Hari Kebangkitan ini.

Rasulullah (S. A. W.) pernah bersabda bahwa Hari Kiamat dan Hari di mana kita akan dibangkitkan kembali akan terjadi pada hari Jum’at.

Abu Hurairah melaporkan bahwa Rasulullah (S. A. W.) ditanya (oleh seseorang) tentang alasan mengapa hari Jum’at dinamakan seperti itu (Jum’at), beliau menjawab, “Karena pada hari itu bapakmu Nabi Adam diciptakan, pada hari itu akan terjadi Sa’qah (terompet pertama) dan Hari Kebangkitan (terompet kedua), pada hari itu hukuman hari kiamat akan dilakukan, dan pada tiga jam terakhir di hari itu ada waktu yang mana apabila seseorang berdo’a maka Allah akan mengabulkannya. ” (H. R. Tirmidhi)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah (S. A. W.) pernah berkata, “Pada hari Jum’at setiap hewan akan mengamati sejak subuh sampai maghrib karena takut akan terjadi hari Kiamat (pada hari itu), kecuali jin dan manusia. ” (H. R. Abu Dawud).

Lalu apakah hari Kiamat akan terjadi pada hari Jum’at ini? Jum’at minggu depan? Jum’at bulan depan? Ataukah tahun depan?

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah (S. A. W.), “Kapankan akan terjadi Hari Kiamat?” Nabi (S. A. W.) balik bertanya “Apa yang telah engkau persiapkan untuknya (hari Kiamat tersebut)?”

Apakah yang telah kita persiapkan untuk Hari Kiamat tersebut?

Nabi Muhammad (S. A. W.) pernah bersabda, “Setiap hamba Allah akan tetap berdiri pada Hari Kiamat (sewaktu kita dibangkitkan) sampai ia ditanya: tentang hidupnya, dan bagaimana ia menjalaninya; tentang ilmunya, dan bagaimana ia menggunakannya; tentang hartanya, dan bagaimana ia mendapatkannya dan membelanjakannya; serta tentang tubuhnya, dan bagaimana ia menggunakannya. ” (H. R. Al-Tirmidhi)

Marilah kita berintrospeksi diri terhadap apa yang telah kita lakukan, ilmu apa yang telah kita amalkan, dari mana uang yang kita dapat dan bagaimana kita membelanjakannya, apa yang telah kita ucapkan, dan seterusnya dan seterusnya.

Mu’adh ibn Jabal pernah bertanya kepada Nabi Muhammad (S. A. W.), “Ya Rasulullah, apakah kita akan diminta pertangung-jawaban terhadap setiap kata yang kita ucapkan?” Ia (S. A. W.) menjawab, “‘Tsakilatuka Ummuka’ (ekspresi bhs. Arab), seseorang akan dilempar (dengan muka di bawah) ke dalam api neraka hanya karena apa yang diucapkannya!” (H. R. Ahmad, Tirmidhi, Ibnu Majah)

Akankah kita akan menjadi orang yang ketakutan selama lima puluh ribu tahun? Akankah kita menjadi orang yang menyesal selama-lamanya? Mudah-mudahan kita bukan termasuk orang-orang yang mengabaikan ancaman-ancaman tentang api neraka, sebagaimana orang-orang kafir telah mengabaikan ancaman-ancaman tersebut. Allah (S. W. T.) berfirman:

“Mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan-peringatan (ancaman-ancaman) terhadap mereka sebagai olok-olokkan. ” (Q. S. Al-Kahfi 18:56)

Wallahu-a’lam bish-shawab.
Sumber: eramuslim, 14 Agustus 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.